Kamis, 22 November 2007

Meneladani Sifat Rasulullah SAW

Oleh Abdullah Syafii Damanhuri

"Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh." (QS. al-A'raf, 7: 199).

Dalam al-Qur'an Surat al-A'raf ayat 199 disebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga macam sikap atau budi pekerti luhur, yaitu pemaaf, memerintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil.

Banyak riwayat dalam sejarah Islam yang menjelaskan sikap pemaaf Nabi terhadap umatnya. Beliau dengan ikhlas memberi maaf terhadap musuh-musuhnya yang mau bertobat dan mengakui kesalahan yang dilakukannya, meskipun pada awalnya mereka membuat hidup beliau menderita dan teraniaya.

Pada awal perkembangan Islam di Makkah, ada dua orang bersaudara kakak beradik bernama Ka'ab bin Zuhair dan Bujair bin Zuhair. Bujair telah masuk Islam terlebih dahulu, ia berjuang bersama Nabi saw dalam membela kebenaran dan ikut berhijrah ke Madinah. Sedangkan saudaranya, Ka'ab, termasuk kelompok radikal yang menolak agama Islam, ia bersama komplotannya dengan gencar melakukan intimidasi terhadap kaum muslimin ketika itu. Sedemikian kerasnya permusuhan Ka'ab terhadap umat Islam, sehingga setelah Bujair adiknya berhijrah ke Madinah, ia masih tetap mengecam umat Islam dengan surat-suratnya yang dikirimkan kepada saudaranya tersebut.

Melihat sikap Ka'ab yang membahayakan eksistensi umat Islam, akhirnya Nabi saw memasukkan namanya ke dalam daftar hitam, yaitu golongan penghianat yang senantiasa berbuat kerusakan dan memusuhi kaum muslimin secara keseluruhan. Mengetahui hal itu, Bujair segera mengirimkan surat kepada saudaranya tentang pencatuman namanya pada daftar hitam tersebut. Dalam suratnya, ia juga menjelaskan mengenai sikap pemaaf Nabi dan akhlaknya yang luhur terhadap sesamanya. Akhlak beliau tersebut sekaligus menjadi suri tauladan bagi umatnya. Bujair juga menceritakan dengan lengkap kehidupan kaum muslimin di Madinah. Mereka berada dalam ketenangan, kedamaian, dan senantiasa dibimbing oleh Allah SWT dengan perantaraan Rasul-Nya yang mulia.

Setelah Ka'ab menerima surat itu di Makkah lalu memperhatikan dengan seksama isinya, tiba-tiba ada dorongan kebenaran dengan kuat yang mengetuk kalbunya, ia segera bertobat dari kesalahan masa lalunya. Ia berniat untuk pergi meninggalkan Makkah menuju Madinah sesegera mungkin demi menemui Nabi saw dan menyatakan diri untuk bergabung dengan barisan kaum muslimin di sana.

Setibanya di Madinah, Ka'ab bin Zuhair segera menemui Nabi saw di masjid dengan diantar oleh Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat setia sekaligus menantu Nabi saw. Sampai di masjid, Ka'ab segera menyatakan diri untuk masuk agama Islam. Nabi saw pun menerima kehadirannya dengan tulus, bahagia, dan penuh bersyukur. Masuk islamnya Ka'ab sekaligus dicoretnya nama Ka'ab dari daftar hitam. Dengan serta merta, Nabi saw dan para sahabatnya mengampuni semua kesalahan Ka'ab di masa lalu, tanpa menyisakan perasaan dendam sedikitpun di dada mereka.

Nabi saw adalah Rasulullah, pemimpin umat, penghulu para Nabi, bahkan panutan seluruh alam, tetapi beliau tidak mau menampakkan diri dan bersikap sombong. Tetapi sebaliknya, beliau bersikap rendah hati. Beliau adalah seorang yang rendah hati. Suatu ketika para sahabat berdiri begitu melihat Nabi saw datang. Maka beliau menegurnya agar tidak diperlakukan layaknya orang-orang asing yang ingin diagungkan. Apabila mengunjungi sahabat-sahabatnya, beliau pun duduk di mana saja ada tempat yang kosong. Beliau bergurau dan bergaul dengan mereka. Anak-anak merekapun diajaknya bermain-main dan didudukkannya mereka di pangkuannya. Dalam memenuhi undangan, beliau tidak melihat faktor ekonomi ataupun status sosial seseorang.[]